Cari Di Sini!

Bolehkah Isteri Kirim Uang Ke Ortu Tanpa Izin Suami? PDF Print E-mail
Konsultasi Keluarga
Friday, 08 July 2016 16:23

 

Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya mau tanya apakah salah jika seorang isteri membantu orangtuanya dengan cara mengirimkan uang bulanan secara diam-diam tanpa sepengetahuan suami? Meskipun suami selalu mengirimkan uang bulanan kepada orangtua saya, tetapi saya terkadang masih tetap mengirimkan uang bulanan kepada orangtua saya tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada suami. Hal itu terpaksa saya lakukan karena saya merasa kasihan kepada keluarga saya yang kadang masih kekurangan. Sebab, hanya mama saya saja yang bekerja.

 

Jujur, saya merasa iri kepada mertua saya. Sebab, suami bisa memberikan apa saja yang diminta oleh keluarganya, sementara untuk keluarga saya dia hanya bisa memberikan semampunya. Padahal kondisi keuangan kami bisa dibilang sangat berkecukupan. Kadang saya merasa sedih dengan keadilan yang diberikan untuk keluarga saya. Karena itulah, saya pun mulai mengirim uang secara diam-diam. Mohon pencerahannya. Terimakasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
E-...

 

Jawaban:

 

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.
Saudariku yang terhormat, secara hukum Islam, Anda tidak dibenarkan untuk melakukan hal itu tanpa sepengetahuan suami bila uang yang Anda kirimkan itu bersumber dari harta suami, bukan dari harta atau penghasilan Anda sendiri. Hal ini disamping disebabkan karena Anda sebagai seorang isteri tidak memiliki hak penuh atas harta suami, juga disebabkan karena Islam sangat menghormati hak setiap insan, termasuk hak suami. Di antara hak suami yang harus diperhatikan seorang isteri adalah, seorang isteri harus menaati perintah suami dan tidak melakukan hal-hal yang tidak disukainya, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

 

ﺧﻴﺮ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺴﺮﻩ ﺇﺫﺍ ﻧﻈﺮ ﻭﺗﻄﻴﻌﻪ ﺇﺫﺍ ﺃﻣﺮ ﻭﻻ ﺗﺨﺎﻟﻔﻪ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻭﻻ ﻣﺎﻟﻬﺎ ﺑﻤﺎ ﻳﻜﺮﻩ

 

Sebaik-baik wanita (isteri) adalah yang menyenangkan suaminya jika sang suami memandangnya, menaatinya jika sang suami memberikan perintah, dan tidak menyalahi kebaikan suaminya baik dalam urusan dirinya maupun hartanya, yang dengan melakukan hal-hal yang tidak disukai suaminya.” (HR. Nasa`i dan Ahmad)

 

Dalam konsultasi yang Anda sampaikan, meskipun tidak disebutkan secara tegas sumber uang yang Anda kirimkan, namun dari bahasa Anda, sepertinya uang tersebut berasal dari harta suami. Saya yakin, seandainya apa yang Anda lakukan itu diketahui oleh suami, ada kemungkinan besar dia tidak menyukainya. Bahkan dalam banyak kasus, hal seperti itu sering menjadi sumber retaknya rumah tangga. Paling tidak, akan mengurangi kepercayaan suami terhadap isteri.

 

Sekali lagi saya tekankan, isteri tidak memiliki hak penuh atas harta suami, kecuali bila suami terlalu pelit sehingga tidak memenuhi kewajibannya. Dalam kasus seperti ini, isteri dibolehkan untuk mengambil harta suami untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan hidup rumah tangga. Namun kata Rasulullah, hal itu juga harus dilakukan secara patut, atau hanya sebatas menutupi kebutuhan-kebutuhan yang benar-benar utama (pokok). Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Hindun bintu ‘Utbah berkata,”Wahai Rasulullah sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang kikir, dia tidak memberi nafkah yang cukup buat aku dan anak- anakku, kecuali aku harus mengambilnya sedangkan dia tidak tahu,” maka (Rasulullah) mengatakan,”Ambillah apa yang cukup buatmu dan anak- anakmu dengan cara yang patut.(HR.Bukhari)

 

Namun sepertinya kasus yang Anda alami tidak sama dengan yang dialami Hindun, karena uang yang Anda kirimkan bukan untuk kebutuhan yang termasuk kebutuhan pokok rumah tangga Anda. Bahkan sesuai penuturan Anda, sebenarnya suami Anda selalu mengirimkan uang bulanan kepada mertuanya (orangtua Anda), hanya saja mungkin jumlahnya belum seperti yang Anda harapkan. Apalagi ada perbedaan dalam hal kuantitas (jumlah) maupun intensitas, antara uang yang selama ini diterima oleh orangtua Anda dengan yang diterima mertua Anda.

 

 

Saudariku, saya melihat bahwa masalah yang Anda hadapi ini hanyalah masalah komunikasi. Cobalah bangun komunikasi yang lebih baik dengan suami. Sampaikan apa yang Anda inginkan dengan "hati", jangan pakai emosi! Kalau bisa, cari waktu yang tepat dimana suami dalam kondisi lebih bisa menerima masukan dari Anda, seperti di waktu malam sesaat setelah atau sebelum Anda "bersenang-senang" dengannya. Sampaikan dengan penuh kesabaran, tidak harus dalam sekali penyampaian. Bisa saja setelah Anda menyampaikannya untuk pertama kali, suami Anda belum mau menerima. Tetaplah bersabar dan optimis, mudah-mudahan pada penyampaian berikutnya, suami sudah terbuka hatinya sehingga mau menerima dan memahami keinginan Anda. Demikian penjelasan saya, mudah-mudahan bermanfaat. Fatkhurozi