Rasulullah saw. bersabda: "Bukanlah kefakiran yg aku takutkan atas kalian. Melainkan aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian. Nanti kalian akan bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah bersaing untuknya. Nantinya (kemewahan) dunia akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka (HR. Muttafaqun 'alaih)
For professional websites please choose the best web hosting company.


Bolehkah Wanita Haidh Membaca Al-Qur`an?

PDF Print E-mail
Assalamualaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya sampaikan, mohon penjelasan dan pencerahannya:

1. Apakah wanita yang sedang haidh atau nifas boleh menyentuh Al-Quran?

2. Apakah mandi junub diwajibkan bagi wanita yang tidak sedang bercampur dengan suaminya tetapi pada kelaminnya mengeluarkan cairan (pelumas)?
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

S …………..


Jawaban:


Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

1. Mengenai permasalahan membaca Al-Qur`an bagi wanita yang sedang haid, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang membolehkan dan ada pula yang tidak.

Ulama yang membolehkan seperti sebagian ulama dalam madzhab Malikiyah, mendasarkan pendapatnya pada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Aisyah ra. pernah membaca A-Qur`an dalam keadaan sedang haid. Selain itu, mereka juga mendasarkan pendapatnya pada hadits yang ‘Aisyah radhiyallahu’anha bahwa dia berkata:

“Aku datang ke Mekkah sedangkan aku sedang haidh. Aku tidak melakukan thawaf di Baitullah dan (sa’i) antara Shafa dan Marwah. Saya laporkan keadaanku itu kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, ‘Lakukanlah apa yang biasa dilakukan oleh haji selain thawaf di Baitullah hingga engkau suci’.” (Hadits riwayat Imam Bukhori no. 1650)

Berdasarkan hadits tersebut, seorang wanita yang sedang haidh dibolehkan untuk membaca Al-Qur`an, karena yang dilarang bagi wanita hanyalah thawaf di Baitullah. (Jami’ Ahkamin Nisa’ I/183)

Sementara itu, sebagian ulama yang lain tidak membolehkan wanita yang sedang haidh untuk membaca Al-Qur`an, dengan alasan bahwa apa yang dilakukan oleh Sayyidatina Aisyah ra. tersebut (jika riwayatnya dianggap shahih) bukan otomatis menunjukkan bolehnya membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haidh. Sebab, hal itu bertentangan dengan sabda Nabi saw.:

لا يَقْرَأ الْحَائِضُ وَلا الْجُنُبُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ


Orang yang sedang haidh atau junub tidak boleh membaca sesuatu dari Al-Quran(HR. at-Tirmidzi dan al-Baihaqi)

Adapun hadits tentang haji yang dijadikan dalil kelompok pertama, hanya berkaitan dengan rangkaian ibadah haji, seperti thawaf, sa’i, wukuf, melempar jumrah dan lain-lain, tetapi tidak termasuk membaca Al-Qur`an.

Menurut ulama yang tidak membolehkannya, yang dimaksud dengan “membaca” di sini adalah mengucapkan ayat-ayat Al-Quran melalui mulut, baik dengan melihat mushhaf ataupun dengan mengucapkan ayat-ayat yang sudah dihafalnya. Sedangkan apabila orang yang sedang haidh atau nifas tersebut hafal ayat-ayat Al-Quran, kemudian dia membacanya dalam hati, maka hal itu dibolehkan.


2. Hukum yang berkaitan dengan keluarnya air dari alat kemaluan, bagi laki-laki ataupun perempuan adalah sama. Penjelasan mengenai ini pernah saya jelaskan pada pembahasan tentang Hukum Air Mani. Di sini, saya hanya ingin menambahkan, bila air yang keluar adalah air mani, maka seseorang diwajibkan mandi junub, meskipun keluarnya air itu bukan karena hubungan badan. Perlu diingat bahwa air mani bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan, dengan ciri-cirinya yaitu cairan yang putih pekat memancar dari kemaluan dan disertai rasa nikmat. Pancaran air mani pada perempuan adalah berwarna kuning dan sedikit. Air mani bisa keluar baik dalam keadaan sadar (melakukan hubungan suami-istri) maupun ketika tidak sadar (mimpi basah). Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Ummu Sulaim pernah bertanya kepada Rasulullah saw.:

“Wahai Rasulullah, apakah diwajibkan bagi seorang wanita untuk mandi jika ia bermimpi ?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ya, jika ia melihat air.”

Wallaahu A’lam….
 
free pokerfree poker
Silahkan isi data-data iklan Anda di link terbawah!
Ponpes Al-Husna Sumut
Pondok Pesantren Al-Husna Marindal I Patumbak Deli Serdang Sumatera Utara.
Ponpes Fathan Mubina
Pondok Pesantren Fathan Mubina Ciawi Jawa Barat.
Blog Media Silaturahim
Blogspot Media Silaturahim
Ponpes Darurrahmah Yapida
Pondok Pesantren Darurrahmah Yapida Gunung Putri Bogor Jawa Barat
Renungan Ba'da Shubuh
Renungan Ba'da Shubuh oleh Ir. H. Dodie Hidajat
PT. Aqsha Jisru Dakwah

Renungan

Untuk sampai ke kota A, misalnya, kemungkinan besar slalu ada beberapa jalan. Andaikata jalan tercepat rusak dan banyak perompak sehingga kita harus melaluinya dg berdarah2 dan kemungkinan besar tidak dapat selamat sampai tujuan, maka kita harus mengambil jalur lain yg lebih aman walaupun lebih jauh dan lebih lama. Itulah yg harus difahami oleh seorang dai, terutama dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini dimana ta'ashshub (fanatik) golongan sangat kental dan seringkali menimbulkan benturan. Jadi butuh pendekatan dan cara yang cantik. Terkadang satu kebenaran bisa disampaikan dg berbagai cara yg sama2 sah dan tidak harus keluar dari prinsip2 syariat. Wallaahu A'lam....Lihat renungan lainnya>>>>>>