Rasulullah saw. bersabda: "Bukanlah kefakiran yg aku takutkan atas kalian. Melainkan aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian. Nanti kalian akan bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah bersaing untuknya. Nantinya (kemewahan) dunia akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka (HR. Muttafaqun 'alaih)
For professional websites please choose the best web hosting company.


Khutbah Idul Fitri

KHUTBAH IDUL FITRI 1433 H

Oleh: Fatkhurozi, Lc., MA


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر

لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا، لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعز جنده، وهزم الأحزاب وحده، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون

الحمد لله الذي جعل التقوى مفتاح الخير وعنوان السعادة، وجعل المتقين من السعداء المفلحين يوم القيامة، يوم تكون وجوههم ناضرة، إلى ربها ناظرة، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله لا نبي بعده

اللهمّ صلّ وسلّم وبارك على سيد المرسلين، سيدنا وحبيبنا ومولانا محمد، وعلى آله وأصحابه أجمعين،

أمّا بعد: فيا أيّها المسلمون، اتقوا الله، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون، واعلموا أن الله جل وعلا يقول في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كُتِبَ عَلَى الذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، وقال أيضا: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْم

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullaah

Alhamdulillah puji syukur marilah sama-sama kita panjatkan kehadirat ALLAH swt.yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita, sehingga di pagi hari ini kita diberi kesempatan untuk merayakan kemenangan setelah satu bulan penuh kita berjuang keras untuk menundukkan hawa nafsu kita melalui ibadah puasa Ramadhan. Mudah-mudahan perjuangan kita itu benar-benar akan membuahkan ketakwaan dalam diri kita sehingga kita akan menjadi manusia yang mulia di hadapan ALLAH swt., karena hanya ketakwaanlah yang menjadi ukuran kemuliaan seseorang di hadapan ALLAH swt., bukan jabatan, status sosial ataupun kekayaan, seperti disebutkan dalam firman-Nya:

 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujuraat: 13)

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, sahabat dan para penerusnya hingga hari akhir nanti.

Hadirin jamaah shalat Idul Fitri yang berbahagia

Puasa Ramadhan yang baru saja kita lakukan satu bulan penuh merupakan sebuah madrasah / sekolah yang bertujuan untuk melatih dan mendidik kita agar menjadi orang-orang yang bertakwa, seperti ditegaskan dalam firman-Nya “ لعلكم تتقون (agar kalian bertakwa), dan ini merupakan wujud kasih sayang ALLAH swt. yang selalu menginginkan kebaikan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Dengan latihan yang diberikan setiap tahun ini, maka semestinya kondisi umat Islam semakin hari semakin membaik, bukan malah sebaliknya seperti yang sekarang kita rasakan. Hal ini tidak lain disebabkan karena dengan latihan tersebut, kualitas diri setiap Muslim semakin hari semakin membaik, hingga pada akhirnya mereka pun benar-benar akan menjadi orang-orang yang bertakwa.

Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, kondisi umat Islam semakin hari semakin memprihatinkan, bahkan yang paling saya takutkan sekarang mereka sudah berada di ambang kehancuran. Kita bisa melihat bahwa perzinahaan atau pergaulan bebas semakin marak, peredaran narkoba di masyarakat (terutama di kalangan anak muda) semakin merajalela, tawuran antar pelajar, antar mahasiswa, bahkan antar warga ataupun organisasi massa terjadi di mana-mana, korupsi dan kolusi semakin membudaya, serta kemaksiatan-kemaksiatan lainnya yang semakin hari semakin meningkat. Padahal dengan ibadah puasa yang bertujuan mencetak orang-orang yang bertakwa serta diwajibkan setiap tahun, maka idealnya kondisi umat Islam semakin membaik dan hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, hal-hal negatif tersebut akan terus mengalami penurunan. Tentunya hal ini menjadi keprihatinan kita bersama, bahkan menjadi kewajiban bagi kita untuk bersama-sama mengendalikannya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Akbar Walillaahil Hamd…..

Kenapa bisa terjadi gap / kesenjangan seperti itu, yaitu gap antara idealita dengan realita atau antara kondisi yang semestinya terjadi dengan kenyataan yang ada? Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya hal tersebut:

Pertama: Makin banyak orang Muslim yang tidak berpuasa sehingga makin banyak pula orang yang tidak mengikuti proses pelatihan tahunan untuk menjadi orang yang bertakwa. Hal ini merupakan fakta yang sulit untuk dipungkiri, apalagi di kota-kota besasr seperti Jakarta dan sekitarnya dimana orang-orang Muslim yang tidak berpuasa semakin terang-terangan dan sepertinya sudah tidak punya rasa malu lagi. Namun menurut pengamatan saya, hal itu bukan merupakan faktor utama terjadinya gap di atas.

Kedua: Masih banyak orang yang berpuasa tapi belum memahami hakekat dari puasa itu sendiri, sehingga mereka menjalankannya hanya sebagai sebuah ritual atau kewajiban, belum sampai pada tahap memahaminya sebagai sebuah pembelajaran dan pelatihan yang diberikan ALLAH swt. kepada mereka dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas diri, hingga pada akhirnya mereka pun benar-benar dapat meraih predikat “takwa”. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya pejabat atau para pengemban amanah umat yang berpuasa tapi mereka masih tetap korupsi, atau masih banyak anggota masyarakat yang berpuasa tetapi mereka terlibat tawuran. Dalam hal ini, puasa belum bisa menjadi kontrol atau pengendali bagi mereka dari hal-hal yang negatif seperti itu. Rasulullah saw. telah mewanti-wanti hal ini dalam sabdanya:

كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش

Berapa banyak orang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)

Hadirin rahimakumullah

Hal ini sungguh sangat disayangkan, padahal sebagai sebuah madrasah ruhaniah, ibadah puasa Ramadhan yang diwajibkan kepada umat Islam diharapkan dapat membentuk karakter-karakter takwa dalam diri mereka, yaitu karakter-karakter yang dijelaskan ALLAH swt. dalam firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran : 133-134)

Tiga karakter “takwa” yang disebutkan ALLAH dalam firman-Nya tersebut adalah:

1. Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, atau dengan pengertian yang lebih umum, orang yang bertakwa adalah orang yang mau memperhatikan kepentingan orang lain, apalagi kepentingan saudara sesama Muslim. Karakter seperti ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa ketika berhijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf yang hijrah dari Mekkah dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi'. Saat itu, Sa'ad berkata kepada Abdurrahman: "Ini adalah hartaku yang telah aku bagi dua, pilihlah mana yang kamu suka! Ini adalah rumahku yang terdiri dari dua tingkat, pilihlah mana yang kamu suka! Ini adalah dua orang isteriku, pilihlah mana yang kamu suka. Aku akan menceraikannya sehingga kamu dapat menikahinya!" Subhanallaah, pengorbanan yang luar biasa dari seorang Muslim terhadap saudaranya sesama Muslim! Sungguh Sa'ad lebih mengutamakan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya sendiri.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Akbar Walillaahil Hamd…..

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa pada saat terjadinya peperangan Yarmuk, Ikrimah tegeletak terkena tujuh puluh tikaman di dadanya. Sedang di sampingnya adalah Al-Harits bin Hisyam dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Al-Harits memanggil-manggil meminta air. Namun ia melihat Ikrimah sangat kehausan, maka ia berkata, “Berikanlah air itu pada Ikrimah.” Ikrimah melihat Ayyasy bin Abi Rabi’ah juga sangat kehausan. Ia berkata, “Berikanlah air itu pada Ayyasy.” Ketika air hampir diberikan, Ayyasy sudah tidak bernyawa. Para pemberi air dengan cepat menuju Ikrimah dan Al-Harits, namun keduanya pun sudah tiada. Subhaanallaah!!! Sungguh sebuah kepedulian yang luarbiasa, sebuah nilai yang juga diajarkan oleh ibadah puasa. Sebab dengan puasa, seorang Muslim dilatih untuk ikut merasakan penderitaan orang lain, terutama derita “lapar” yang sering dirasakan oleh kaum papa (fakir miskin). Bila orang yang berpuasa memahami bahwa dengan berpuasa dia dilatih untuk menjadi orang yang peduli dan memperhatikan kepentingan orang lain, maka saya yakin dia akan menjadi orang yang anti korupsi, karena korupsi termasuk tindakan yang sangat merugikan orang lain, bahkan orang banyak.

2. Karakter kedua adalah menahan amarah. Orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menahan amarah saat dirinya dilanda emosi. Ibadah puasa melatih seorang Muslim untuk bisa mengendalikan emosinya. Sebab pada saat perut sedang kosong (apalagi lebih dari 12 jam), emosi seseorang mudah sekali terpancing. Namun demikian, orang yang berpuasa dituntut untuk bisa menahan amarahnya meskipun ada hal-hal yang dapat memancing amarahnya. Dalam sebuah Hadits, Rasulullah saw. bersabda: Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : Aku sedang puasa, aku sedang puasa” (HR. Ibnu Khuzaimah) Dengan latihan menahan amarah melalui ibadah puasa ini, diharapkan setiap Muslim lebih dapat mengendalikan emosinya dalam kehidupan sehari-hari termasuk pasca Ramadhan, baik dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat ataupun warga negara.

3. Karakter ketiga adalah mudah memaafkan kesalahan orang lain. Orang yang bertakwa adalah orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain terhadapnya. Hal ini sering sekali dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw. dimana beliau mudah sekali memaafkan orang yang bersalah kepadanya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada seorang Yahudi yang setiap hari selalu membuang kotoran di depan rumah Rasulullah. Namun suatu hari, Rasulullah saw. tidak lagi melihat adanya kotoran di depan rumah. Beliau pun bertanya-tanya ada apa gerangan? Setelah dicek, ternyata orang Yahudi tersebut sakit. Rasulullah pun segera menjenguk orang Yahudi tersebut, bahkan beliau adalah orang yang pertama kali menjenguknya. Orang Yahudi itu pun mengakui keagungan dan keluhuran akhlak Rasulullah ini hingga akhirnya dia menyatakan dirinya masuk Islam. Subhanallaah!! Sungguh sebuah sifat yang sangat mulia, sebuah sifat yang juga diajarkan oleh ibadah puasa.

Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan ALLAH

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Akbar Walillaahil Hamd…..

Ketiga karakter ini terkadang terkesan sangat sepele namun dampaknya sungguh luar biasa. Bahkan ketiganya menjadi pilar utama terbentuknya masyarakat yang sejahtera, tenteram dan damai. Bila setiap Muslim menyadari hal ini, kemudian dia mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya saat sedang berpuasa tetapi juga pasca Ramadhan, kemungkinan besar masalah-masalah yang sedang mendera bangsa Indonesia saat ini seperti korupsi, kolusi, tawuran, narkoba dan lain-lain bisa segera teratasi, hingga akhirnya negeri kita tercinta menjadi negeri yang aman, makmur, damai dan sejahtera “Baldatun thayyibatun wa Robbun Ghafuur” (Negeri yang baik dan diampuni ALLAH yang Maha Pengampun). Mudah-mudahan kita semua menyadari hal ini dan bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, amin ya Robbal ‘Alamiin.....


 

جعلنا الله وإياكم من العائدين الفائزين المقبولين، وبارك لنا ولكم فى القرآن العظيم. ونفعنا وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم


Khutbah Kedua

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لاإله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لا نبي بعده، أما بعد، فَيَاآيُّهَا الْحأضِرُوْنَ الْكِرَامِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ واعلموا أن الله جل وعلا يقول في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: إن الله وملائكته يصلون على النبي، ياأيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين المُهْدِيِّيْنَ: أبي بكر وعمر وعثمان و علي وعن بقية الصحابة والتابعين وتابعي التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين وَارْضَ عَناَّ مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الراَّحِمِيْنَ.

اللهم اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناَتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِماَتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْواَتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَواَتِ ياَ قاَضِيَ الْحاَجاَتِ

ربنا اغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغارا

ربنا اغفر لنا ذنوبنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بأسْمَاعِنا، وَأَبْصَارِنَا، وقُوَّتِنَا مَا أحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوارثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وأدخلنا الجنة مع الأبرار يا عزيز يا غفار يا رب العالمين

عباد الله إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه علي نعمه يزدكم واسألوه من فضله يعطكم ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 
free pokerfree poker
Silahkan isi data-data iklan Anda di link terbawah!
Ponpes Al-Husna Sumut
Pondok Pesantren Al-Husna Marindal I Patumbak Deli Serdang Sumatera Utara.
Ponpes Fathan Mubina
Pondok Pesantren Fathan Mubina Ciawi Jawa Barat.
Blog Media Silaturahim
Blogspot Media Silaturahim
Ponpes Darurrahmah Yapida
Pondok Pesantren Darurrahmah Yapida Gunung Putri Bogor Jawa Barat
Renungan Ba'da Shubuh
Renungan Ba'da Shubuh oleh Ir. H. Dodie Hidajat
PT. Aqsha Jisru Dakwah

Renungan

Untuk sampai ke kota A, misalnya, kemungkinan besar slalu ada beberapa jalan. Andaikata jalan tercepat rusak dan banyak perompak sehingga kita harus melaluinya dg berdarah2 dan kemungkinan besar tidak dapat selamat sampai tujuan, maka kita harus mengambil jalur lain yg lebih aman walaupun lebih jauh dan lebih lama. Itulah yg harus difahami oleh seorang dai, terutama dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini dimana ta'ashshub (fanatik) golongan sangat kental dan seringkali menimbulkan benturan. Jadi butuh pendekatan dan cara yang cantik. Terkadang satu kebenaran bisa disampaikan dg berbagai cara yg sama2 sah dan tidak harus keluar dari prinsip2 syariat. Wallaahu A'lam....Lihat renungan lainnya>>>>>>